Saturday, February 28, 2009

Aku Dan Sekolah

Tingkatan 2
Bebudak kadet

Tingkatan 3
Beberapa hari sebelum SRP

Baru lepas pendidikan jasmani

Tingkatan 5
Otai - berlatar belakangkan menara Maybank

Latarbelakang; Stadium Merdeka

Dah dekat nak SPM

Geng metal kat kolam renang sekolah

Thursday, February 26, 2009

Aku Diuji Lagi

Firman Allah dalam surah Al-'Ankabuut;

الم
1. Alif, Laam, Miim.


أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
2. Patutkah manusia menyangka bahawa mereka akan dibiarkan dengan hanya berkata: "Kami beriman", sedang mereka tidak diuji (dengan sesuatu cubaan)?


وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
3. Dan demi sesungguhnya! Kami telah menguji orang-orang yang terdahulu daripada mereka, maka (dengan ujian yang demikian), nyata apa yang diketahui Allah tentang orang-orang yang sebenar-benarnya beriman, dan nyata pula apa yang diketahuiNya tentang orang-orang yang berdusta.


أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ أَن يَسْبِقُونَا سَاء مَا يَحْكُمُونَ
4. Bahkan patutkah orang-orang yang melakukan kejahatan menyangka bahawa mereka akan terlepas dari azab Kami? Amatlah buruk apa yang mereka hukumkan itu.


مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
5. Sesiapa yang percaya akan pertemuannya dengan Allah (untuk menerima balasan), maka sesungguhnya masa yang telah ditetapkan oleh Allah itu akan tiba (dengan tidak syak lagi); dan Allah jualah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.


وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
6. Dan sesiapa yang berjuang (menegakkan Islam) maka sesungguhnya dia hanyalah berjuang untuk kebaikan dirinya sendiri; sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak berhajatkan sesuatupun) daripada sekalian makhluk.


وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ
7. Dan orang-orang yang beriman serta beramal soleh sesungguhnya Kami akan hapuskan dari mereka kesalahan-kesalahan mereka, dan Kami akan membalas apa yang mereka telah kerjakan - dengan sebaik-baik balasan.


*********************************************


Isnin lepas jam 8 malam, anak perempuan aku no 2 (12 tahun) di masukkan ke wad di hospital Selayang sebab kena apendik. Aku masa tu tengah keluar 3 hari di Pinggiran Templer, tak jauh dari hospital. Asbab kelemahan aku yang bawak handphone, maka berita tu sampai jugak kat aku... Lepas solat istikhoroh 2 rakaat, aku minta kebenaran amir sab untuk tangguh dari jemaah dan bergegas ke hospital.

Pembedahan kena dibuat segera dan aku diperlukan untuk sign concern letter. Pembedahan dibuat kira-kira jam 12 tengah malam dan selesai kira2 jam 2 pagi. Lama jugak sebab apendik tu dah pecah dan bernanah. Aku yang dah fobia duduk kat hospital, nampaknya kena lepak lagi kat sini.

Alhamdulillah, pagi tadi doktor kata petang ni boleh balik, insyaAllah.
(sekarang ni balik rumah kejap tengok apa2 urusan yang tak selesai dan sempatlah update blog)

Doa hidayat untuk umat. Aku quot ayat Quran kat atas untuk tenangkan hati sendiri.

Friday, February 20, 2009

Khansa rA.ha - ibu kepada syuhada


Al-Khansa adalah seorang wanita penyair yang tersohor di zaman Rasulullah saw. Nama bapanya adalah Amru bin al-Haris bin asy-Syarid. Ia adalah seorang ibu yang memiliki empat orang anak yang sangat ia cintai.

Rasulullah saw pernah meminta kepadanya untuk bersyair, maka beliau bersyair. Rasulullah saw menyahut, "Wahai Khansa' dan hari-hariku di tangan-Nya"

Salah satu syair Al-Khansa yang bagus:

Kedua mataku menangis dan tiada akan membeku
Bagaimana mata tidak menangis untuk Shakhr yang mulia
Bagaimana mata tidak menangis untuk sang pemberani
Bagaimana mata tidak menangis untuk seorang pemuda yang luhur

Ketika Adi bin Hatim datang kepada Rasulullah saw, dia berkata kepada Nabi, "Wahai Rasulullah saw, sesungguhnya di tengah-tengah kami ada orang yang paling ahli dalam syair, ada juga orang yang paling dermawan di antara manusia dan orang yang paling ahli dalam menunggang kuda."

Kemudian Nabi saw bersabda, "Siapakah nama mereka?" Adi bin Hatim berkata, "Adapun orang yang paling ahli bersyair adalah al-Qais bin Hajar, sedangkan yang paling dermawan adalah Hatim bin Sa'ad (yakni bapaknya Adi), adapun yang paling ahli dalam berkuda adalah Amru bin Ma'di Karib."

Rasulullah saw bersabda, "Tidak benar apa yang kamu katakan wahai Adi, adapun orang yang paling ahli dalam syair adalah Khansa' binti Amru, adapun orang yang paling dermawan adalah Muhammad (yakni Muhammad saw), sedangkan orang yang paling ahli berkuda adalah Ali bin Abu Thalib."

Maka tak heranlah bila Al-Khansa disebut sebagai wanita penyair dengan keistimewaannya, “Telah dikumpulkan para penyair dan ternyata tidak didapatkan seorang wanita yang lebih ahli tentang syair daripada beliau “

Suatu ketika, Khansa’ mendatangi Rasulullah saw bersama kaumnya dari Bani Salim, kemudian mengumumkan ke-Islamannya dan menganut aqidah Islam. Dengan kesungguhan Khansa dalam menganut Islam, ia menjadi lambang akan keberanian, kebesaran jiwa, serta kemuliaan bagi sosok wanita muslimah.

Salah satu prestasi yang mengagumkan adalah jihad Islam dalam membela kebenaran Islam. Khansa turut berperang bersama kaum muslimin dan menyertai pasukan mereka yang memperoleh kemenangan.

Ketika Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berangkat ke Qadisiyah di masa Amirul Mukminin Umar bin Khaththab ra, Khansa’ berangkat bersama keempat putranya untuk menyertai pasukan tersebut. Di medan peperangan, di saat malam ketika para pasukan sedang siap berperang satu sama lain, Khansa’ mengumpulkan keempat putranya untuk memberikan petuah dan bimbingan kepada mereka dan mengobarkan semangat kepada mereka untuk berperang dan agar mereka tidak lari dari peperangan serta agar mereka mengharapkan syahid di jalan Allah swt.

Berikut ini adalah wasiat Al-Khansa’ kepada anak-anaknya:

“Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian telah masuk Islam dengan ketaatan, kalian telah berhijrah dengan sukarela dan Demi Allah, tiada Illah selain Dia. Sesungguhnya kalian adalah putra-putra dari seorang wanita yang tidak pernah berkhianat kepada ayah kalian, kalian juga tidak pernah memerlukan paman kalian, tidak pernah merusak kehormatan kalian dan tidak pula berubah nasab kalian. Kalian mengetahui apa yang telah Allah janjikan bagi kaum muslimin berupa pahala yang agung bagi yang memerangi orang-orang kafir, dan ketahuilah bahwa negeri yang kekal lebih baik dari negeri yang fana (binasa).

Kemudian beliau membaca sepotong ayat al Quran; Allah Azza wa Jalla befirman,

“Wahai orang-orang yang berfirman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (Ali Imran: 20).

Maka, ketika datang waktu esok, jika Allah menghendaki kalian masih selamat, persiapkanlah diri kalian untuk memerangi musuh dengan penuh semangat dan mohonlah kepada Allah untuk kemenangan kaum muslimin. Jika kalian melihat perang telah berkecamuk, ketika api telah berkobar, maka terjunlah kalian di medan laga, bersabarlah kalian menghadapi panasnya perjuangan, niscaya kalian akan berjaya dengan ghanimah (rampasan perang) dan kemuliaan atau syahid di negeri yang kekal."

Keempat putra Khansa mendengarkan wejangan tersebut dengan penuh seksama. Mereka keluar dari kamar ibu mereka dengan tekad membara untuk menunaikan amanah jihad dan perjuangan. Ketika datang waktu pagi, mereka segera bergabung bersama pasukan dan bertolak untuk menghadapi musuh. Syair mereka lantunkan.

Anak yang tertua bersenandung:

Wahai saudaraku, sesungguhnya ibunda sang penasehat
Telah berwasiat kepada kita kemarin malam
Dengan penjelasan yang tenang dan gamblang
Maka bersegeralah menuju medan tempur yang penuh bahaya
Yang kalian hadapi hanyalah
kawanan anjing yang sedang menggonggong
Sedang mereka yakin bahwa dirinya akan binasa oleh kalian
Adapun kalian telah dinanti oleh kehidupan yang lebih baik
Ataukah syahid untuk mendapatkan ghanimah yang menguntungkan

Kemudian dia maju untuk berperang hingga terbunuh.

Lalu yang kedua bersenandung:

Sesungguhnya ibunda yang tegas dan lugas
Yang memiliki wawasan yang luas dan pikiran yang lurus
Suatu nasihat darinya sebagai tanda berbuat baik terhadap anak
Maka bersegeralah terjun di medan perang dengan jantan
Hingga mendapatkan kemenangan penyejuk hati
Ataukah syahid sebagai kemuliaan abadi
Di Jannah Firdaus dan hidup penuh bahagia

Kemudian dia maju dan berperang hingga menemui syahid.

Lalu giliran putra Al-Khansa’ yang ketiga bersenandung:

Demi Allah, aku tak akan mendurhakai ibuku walau satu huruf pun
Beliau telah perintahkan aku untuk berperang
Sebuah nasihat, perlakuan baik, tulus dan penuh kasih sayang
Maka, bersegeralah terjun ke medan perang yang dahsyat
Hingga kalian dapatkan keluarga Kisra (kaisar) dalam kekalahan
Jika tidak, maka mereka akan membobol perlindungan kalian
Kami melihat bahwa kemalasan kalian adalah suatu kelemahan
Adapun yang terbunuh di antara kalian adalah kemenangan dan pendekatan diri kepada-Nya

Kemudian, dia maju dan bertempur hingga mendapatkan syahid.

Lalu giliran putra Al-Khansa’ yang terakhir bersenandung:

Bukanlah aku putra Al-Khansa, bukan pula milik al-akhram
Bukan pula Amru yang memiliki keagungan
Jika aku tidak bergabung dengan pasukan yang memerangi Persia
Maju dalam kancah yang menakutkan
Hingga berjaya di dunia dan mendapat ghanimah
Ataukah mati di jalan yang paling mulia

Kemudian, dia maju untuk bertempur hingga terbunuh.

Berita syahidnya empat bersaudara itu sampai kepada ibunya yang mukminah dan sabar. Al Khansa, Sang Bunda, tidak menjadi goncang ataupun meratap, bahkan dia mengatakan suatu perkataan yang masyhur yang dicatat oleh sejarah dan akan senantiasa diulang-ulang oleh sejarah sampai waktu yang dikehendaki Allah. Ucap Al Khansa:

“Segala puji bagi Allah yang memuliakan diriku dengan syahidnya mereka, dan aku berharap kepada Rabb-ku agar Dia mengumpulkan diriku dengan mereka dalam rahmat-Nya”


Al-Khansa wafat di Badiyah pada tahun 24 Hijriyah, yaitu di awal kekhalifahan Utsman bin Affan. Semoga Allah swt merahmati Al-Khansa, seorang ibu yang sungguh mulia dan patut dijadikan teladan bagi kita semua.

Thursday, February 19, 2009

Umair Bin Abi Waqas r.a

Medan Badar
(gambar dipinjam dari sini)

Senarai si Syahid di Badar
(Nama Umair Bin Abi Waqas pada no 1)

Semasa kaum Muslimin berangkat ke medan peperangan Badar, seorang remaja yang berumur 16 tahun, namanya Umair bin Abi Waqas r.a, takut kalau kalau dia tidak dibenarkan menyertai peperangan kerana disebabkan umurnya yang masih muda. Kerana itulah beliau keluar dengan cara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh sesiapa pun. Abangnya Saad bin Abi Waqas r.a yang melihat hal itu bertanya apakah sebab beliau bersembunyi-sembunyi begini? Jawab Umair: “Aku takut kalau Rasulullah SAW menyuruhku kembali sedangkan aku ingin mati syahid di medan petempuran”.

Apabila Rasulullah SAW mengetahui kejadian itu baginda hampir sahaja menyuruhnya kembali ke Madinah kerana Umair bin Abi Waqas r.a masih belum cukup umurnya untuk berperang. Namun kerana Umair r.a menangis minta diizinkan oleh Nabi SAW untuk ikut berperang. Baginda kasihan melihatnya dan terharu di atas semangat jihad dan kesungguhan Umair r.a, akhirnya baginda SAW membenarkannya. Maka terkabullah cita-cita Umair r.a dan beliau adalah salah seorang yang gugur di medan peperangan Badar sebagai syahid.


Komen Aku:
Inilah semangat perjuangan remaja di zaman sahabat. Keinginan untuk mati DI JALAN ALLAH. Berbeza dengan remaja kita hari ni, berkeinginan mati DI JALAN RAYA. Mudah-mudahan dengan usaha agama yang wujud dan bergerak maju sekarang ni, akan mengembalikan remaja dan pemuda Islam yang sanggup untuk buat pengorbanan diri dan harta untuk agama Allah.

Aku sendiri pun masih tak berani nak beri seluruh hidup untuk agama. Nak suruh keluar 4 bulan pun takut-takut... hampeh..

Tuesday, February 17, 2009

The Incidents of 3 Sahabah with Rustam


Hadhrat Muhammad, Hadrat Talha, Hadhrat Amr and Hadhrat Ziyaad all reports that Hadhrat Sa'd bin Abi Waqqaas sent for Hadhrat Mughiera and few others and said to them, "I intend sending you to those people (the Persians). What have you to say about it?" They all said in one voice, "We shall do as you command and do no more. If a situation arises concerning which there are no directives from you, we shall look for what is best and most beneficial for the people and discuss that with them."

Hadhrat Sa'd then said to them, "Such is the behaviour of intelligent and experienced people. Go and get ready." Hadhrat Rib'ee ibn Aamir then said, 'The non-Arabs have their own peculiar ideas and etiquette and if we all go to them, they will feel that we are placing them on a pedestal. Do not send more than one person." When the other agreed with this, Hadhrat Rib'ee volunteered to go first. Hadhrat Sa'd then sent him and Hadhrat Rib'ee left to meet Rustam in his cantonment.

However, the sentries at the bridge stopped Hadhrat Rib'ee and sent a message to Rustam, informing him of the arrival. Rustam consulted with some leaders of Persia, asking, "What are your opinions? Should we boast only about our military superiority or should we make them feel worthless (by displaying our wealth and riches)?" They were all unanimous about making the Muslims seem worthless, so they made a display of their opulent commodities, they laid out exquisite carpets and cushions and spared nothing in their effort.A golden throne was made for Rustam and he dressed most lavishly. Expensive rugs and cushions woven with gold thread were also laid out.

Hadhrat Rib'ee arrived on his short, long-haired horse, carrying a shining sword. His scabbard was a pouch made of old cloth and his spear was tied with a leather strap. He also carried a shield made of cow's hide, the face of which had round patches of red leather that resembled bread. He also carried his bow and arrows with him. When he came to the court and reached the first of the rugs, he was told to alight from his horse. He however rode the horse on the rug and alighted only when it stood properly on the rug. He then tore up two cushions, pierced the horse's reins through them and tied the horse up.

All this while, the people there were unable to stop him. Hadhrat Rib'ee knew well that they were displaying everything to him to make him feel inferior, so he wished to get the upper hand over them (because of which he did what he did to show them that their wealth held no attraction for him).

The armour Hadhrat Rib'ee was wearing flowed over him like a dam and he wore the hide of a camel over it like a cloak. He had made a hole in the hide, drew it over his head and tied it about his waist with a cord made from plant fibres. Hadhrat Rib'ee was amongst the hairiest of all Arabs and his hair was tied with the leather reins of a camel. His hair was separated into four lock; that stoodlike the horns of a mountain goat.

The people told him to put down his weapons, to which he replied, "I have not come here by my own accord, so you cannot instruct me to drop my weapons. It is you who have sent for me, so if you do not want me to come as I please, I might as well go back." When this was reported to Rustam, he said, "Allow him in. He is but one person."

Hadhrat Rib'ee arrived, leaning on his spear that had a sharp head. He took short steps and tore the rugs and cushions (with the spear) as he walked. There was no cushion or rug that he did not. ruin, leaving them all torn and tattered after him. When he came up to Rustam, the sentries surrounded him. Hadhrat Rib'ee then sat on the ground and stuck his spear into the rug. "What made you do that?" they asked, Hadhrat Rib'ee replied, "We do not like to sit on those decorated places of yours."

Rustam then addressed Hadhrat Rib'ee saying, 'Whatbringsyou here?" "Allaah has sent us," Hadhrat Rib'ee replied, "Allaah has sent us to remove whoever He wills from servitude to man and to lead him to the servitude of Allaah. Allaah has sent us to remove them from the narrowness of this world towards its vastness and from the oppression of other religions towards the justice of Islaam ..."

The narration then continues, as has been quoted in the chapter discussing the Da'wah that the Sahabah gave during the Khilaafah of Hadhrat Umar. The narration proceeds to state that Rustam said to the courtiers (when they criticised Hadhrat Rib'ee's appearance), "Shame on you! Do not look at clothing but rather look at the prudence, the speech and the personality. The Arabs care little for clothing and food but are covetous about their lineage. They do not dress like you and have different tastes."

The Persians then approached Hadhrat Rib'ee to have a look at his weapons, regarding them to be inferior. He said to them, "Do you wish to show me your military prowess and I shall show you mine?" He then drew his sword from his cloth pouch and it flashed like a flame of fire. "Sheath it!" they called out (in terror). He then sheathed his sword. They then fired arrows at his shield while he fired arrows at theirs. Their shield was shattered while his shield remained intact. He then addressed them saying, "0 Persians! While you have given great importance to food and drink, we treat it with little ceremony." He then went back after giving them time (three days) to consider their position.

The following day, the Persians sent a message saying that they wanted the same person sent back to them. Hadhrat Sa'd however sent Hadhrat Hudhayfah bin Mihsin. He also arrived in simple attire as Hadhrat Rib'ee wore. When he also came to the first rug, he was told to alight from his animal. He however said, "That I would have done if 1 had come to you for my own needs. Ask your king whether I have come for his need or for mine. If he says that it is for my own need, he is lying and I shall return and leave you alone. However, if he says that it is for his own need, then I shall come as I please.".

Rustam instructed the sentries to allow Hadhrat Hudhayfah in and he rode up to Rustam who was seated on his throne. "You may get off your animal," Rustam said. "I shall not," Hadhrat Hudhayfah replied. When he saw that Hadhrat Hudhayfah would not get off the animal, Rustam asked, "What is the matter that you have come and not your companion who came yesterday?" Hadhrat Hudhayfah replied, "Our leader wishes to treat us equally in favourable and adverse conditions. It is my turn today."

"What brings you people here?" Rustam asked. Hadhrat Hudhayfah replied, "Allaah has favoured us with His religion and shown us His signs until we realised that it was the truth even though we had been opposed to it. He then commanded us to invite people to one of three options. We shall accept any of the three options they choose. Either you accept Islaam and we shall leave you alone. Otherwise, you may choose to pay the Jizya and we shall stand in your defence whenever the need arises. The next option is battle." "Do we have a few days to enter into an agreement?" Rustam asked. Hadhrat Hudhayfah replied, "You have three days which started yesterday."

When Rustam received from Hadhrat Hudhayfah nothing more than he got from Hadhrat Rib'ee , he sent him away and addressed his companions saying, "Shame on you people! Do you not see what I see? The first man came to us yesterday and defeated us on our premises. He degraded what we were enamoured with, stood his horse on our opulence and even tied his horse to it. He took a good omen from what he did and returned to his people, taking some of our soil with him. That was apart from his superior intelligence. Today this other man arrived and stood over us, also taking a good omen from it by taking our land after expelling us from it." Rustam however infuriated the others and they also infuriated him (by refusing to listen to him).

The following day, the Persians again asked for someone to be sent to them and this time, Hadhrat Mughiera bin Shu'ba ; was sent.

lbn Jareer (Vo1.3 Pg 33)


Another narration continues the narrative, staying that when Hadhrat Mughiera ached the bridge to cross over into Persian territory, he was halted by the sentries who first sought permission from Rustam to allow him in. The Persians, however, did not leave out any of the pomp and ceremony in their effort to make the Arabs feel inferior. Therefore, when Hadhrat Mughiera arrived, the Persians still boasted their opulence. They wore crowns, garments woven from gold threads and carpets were laid out the distance that an arrow travelled. The only way to reach the king was over this length of carpet.

Hadhrat Mughiera who also wore four locks of hair walked up to Rustam and sat with him on his throne and cushion. The courtiers sprang up, grabbed at him and brought him down, even hitting him mildly. Hadhrat Mughiera addressed them saying, "We have always heard that you people were intelligent, but I do not think that there is any nation more foolish than you. We Arabs treat each other as equals and do not make slaves of each other unless circumstances of war demand. I had always thought that you people also practice equality amongst yourselves just as we do. Rather than doing what you just did, it would have been better if you just told me that some of you prevail as masters over others. If sitting beside Rustam was not palatable to you, we will then not do so again. 1 would have not come to you had you not sent for me, but today I can see that your sovereignty is soon to vanish and that you will be vanquished because no power can survive with such a way of life and with such a mentality."

(Hearing this) The common people shouted, "The Arab is right!" To this, the leaders remarked, "By Allaah! He has made a statement towards which our slaves will always be referring us! May Allaah destroy our elders! How foolish were they to regard these people (the Arabs) as insignificant (they should have realised the threat and wiped them out a long time ago) ..." The narration then continues to mention the questions Rustam asked and the replies Hadhrat Mughiera gave him.

Ibn Jareer (Vo1.3 Pg.36)

Monday, February 16, 2009

The Statement that the Emperor of China made about the Sahabah r.hum


(The Emperor of Persia) Yazdgird once wrote to the Emperor of China to seek reinforcements. Addressing the Persian envoy, the Chinese Emperor said, "I know well that it is the duty of any Emperor to assist another against those who are overpowering him. However, I want you to describe to me these people who are driving you out of your lands because I gather from what you said that they are fewer in number than you. From what you have described to me, people as few as them cannot overpower an adversary as many as you unless there is tremendous good in them and rot within you."

"You may ask me whatever you please about them," the envoy said.

The Emperor then asked, "Do they fulfil their promises?"

"Yes," the envoy replied.

The next question was, "What do they tell you before they engage you in combat?"

"They invite us to accept one of three options. We either accept their religion, in which case they treat us as they treat each other. Otherwise, we may accept to pay the Jizya and thus receive their protection. The final option is to face them in battle."

The Emperor then asked, "How obedient are they towards their leaders."

"They are the most obedient of all people towards their leaders," came the reply.

The Emperor further asked, "What do they regard as lawful and what do they regard as unlawful?"

When the envoy gave him a detailed reply, the Emperor asked, "And do they forbid what has been made lawful for them or make lawful what has been forbidden for them?"

"This they do not do," the envoy replied.

The Emperor then said, "Such a nation will never be destroyed as long as they regard what is lawful as lawful and what is unlawful as unlawful."

The next question the Emperor asked was about the clothing the Sahabah r.hum wore. When the envoy described it to him, he then asked about the modes of transport the Sahabah r.hum used. The envoy described the Arab horses that the Sahabah used in detail, after which the Emperor remarked, "Those make excellent fortresses." The envoy then went on to describe the camels that they used and even explained how they sit and then get up with their loads. The Emperor (who had probably never seen a camel before) notes, "That is common with all animals that have long necks."

The Chinese Emperor then wrote back to Yazdgird saying, "It is not ignorance of my duty that prevents me from sending to your aid an army so large that while the first of it is in Marw (the Persian city of), the last is still here in China. However, the description of these people whom your envoy has described to me tells me that if they had to come up against a mountain, they would certainly shatter it. If they are left to advance and retain their qualities, they will soon remove me from my kingship. Enter into a treaty with them and be content to abide by the clauses of the treaty. You should however never attack them as long as they do not attack you."

Ibn Jareer (Vol.3 Pg.249)

Friday, February 13, 2009

Budget Air - tambang murah giler!

Dibenar bawa kerusi sendiri


Makan disediakan
(makan dalam dulang pun boleh)


Pramugari yang sentiasa sedia berkhidmat


Booking tiket sebelum 28 Februari 2009!

Thursday, February 12, 2009

Ijtimak Malaysia 2009 - beberapa pesanan

la neige à paris


Dalam ijtimak di Tongi, elders telah beri beberapa pesanan untuk Malaysia berkenaan ijtimak pada 9, 10, 11 & 12 Julai 2009.
  • Semua orang lama diminta keluar 4 bulan sebelum ijtimak dan 40 hari selepas ijtimak atau sekurang2nya 40 hari sebelum ijtimak dan 4 bulan selepas ijtimak.
  • Ijtimak seperti hujan lebat. Tanah perlu digemburkan sebelum hujan supaya hujan yang turun dapat dimanfaatkan. Jika tanah tak disediakan, air tak dapat diserap ke bumi dan mengalir ke tempat lain dengan sia2 sahaja.
  • Jika kita tidak menyempurnakan tujuan ijtimak, fitnah yang besar akan melanda umat. Umat akan sangka agama ini hanyalah kumpul ramai2 dan mendengar ceramah kemudian bersurai tanpa sebarang amal dibuat.
  • Orang yang bekerja dengan majikan kena mohon cuti. Jika cuti tak lulus, buat rayuan. Jika tak dapat juga kena tambah masa di masjid sendiri. Balik dari pejabat terus ke masjid. Sediakan orang kampung pada amalan agama. Hidupkan masjid 24 jam dengan 4 amalan masjid Nabawi. Lewat malam baru baik ke rumah.
  • Sediakan isteri dan anak2 dengan fikir yang sama. Rumah2 perlu hidup dengan amalan masjid.
  • Sebaik2nya orang yang hadir ijtimak telah dikeluarkan 3 hari supaya dapat menjaga amal semasa ijtimak.
  • JANGAN kata ini ijtimak dunia tapi kata ini ijtimak Malaysia.
  • JANGAN sebut nama2 elders yang akan hadir secara khusus. Ini akan menyulitkan kedatangan mereka nanti.
  • JANGAN kata ratusan ribu akan datang, tapi kata ramai dijangka hadir.
  • Elders kata kerja untuk ijtimak perlu 500 batu maju kehadapan tapi iklan/propaganda mengenainya perlu 500 batu kebelakang.

Tambahan;
  1. Satu jemaah 4bulan dari Kuala Lumpur telah siap dan diluluskan untuk keluar ke Turki, akhir bulan ni.
  2. Satu jemaah lagi seramai 8 orang, juga dari Kuala Lumpur telah siap untuk keluar pada Mac ini. Route dicadangkan ke Perancis tetapi belum mendapat kelulusan Bangawali Masjid, Nizamuddin. (2Mac09-jemaah ini telah diputuskan untuk keluar di Netherlands)

InsyaAllah dan wallahua'lam.


Tambahan pada 17 Feb 2009;
Komen oleh Karkun Johor.

Assalamulaikum rakan2 seusaha,

Sempena ijtimak Malaysia yg akan diadakan pd 9 - 12hb Julai 2009, eldest kita telah beri nasihat kpd org M'sia semasa di Ijtimak Thongi.

Pesanan eldest ialah supaya jemaah dikeluarkan sebyk mungkin SEBELUM ijtimak. Jemaah yg keluar di jln Allah sebelum ijtimak adalah 'roh' dan 'nyawa' kpd ijtimak dan jemaah yg keluar selepas ijtimak hanyalah 'kecantikan' kpd ijtimak.

Kalau rakan2 seusaha (karkun) buat keputusan utk keluar selepas ijtimak, ummat (org awam) akan faham bhw maksud ijtimak ialah utk kumpulkan orang ramai dan dengar bayan (ceramah). Tetapi kalau karkun buat keputusan utk keluar sebelum ijtimak, Allah akan bagi faham kpd org awam bhw maksud ijtimak ialah utk keluar jln Allah dan buat usaha dakwah.

Jadi, sama2lah kita keluar sebelum ijtimak. Doakan saya utk keluar 4 bulan BBNJ sebelum ijtimak. Amin...

Wednesday, February 11, 2009

Doa Ikhlas Seorang Ustaz


Assalamu alaikum !

Ana pernah khuruj, dan kebetulan amir ana adalah seorang ustadz dari salah satu pergerakan Islam. Beliau sebelum kenal usaha dakwah adalah orang yang sangat benci dengan tabligh akibat mendengar keterangan yang salah tentang tabligh.

Alhamdulillah, Allah telah bukakan jalan sehingga beliau bisa ambil bagian dan ikut serta berjuang menghidupkan agama ke seluruh alam.Ada satu doa yang beliau ajarkan yang sampai sekarang masih ana amalkan, doa itu bunyinya

" Ya Allah, kalau memang usaha tabligh ini adalah usaha yang engkau ridhai, maka ikutkan juga aku ya Allah sampai mati dan jadikan usaha dawah ini menyebar ke seluruh alam, tapi kalau usaha dawah ini adalah usaha yang salah dan engkau murkai, maka janganlah ikutkan saya, dan hancurkanlah usaha ini ".

Alhamdulillah, sampai sekarang ana masih istiqomah dalam usaha ini, dan niat ke IPB bulan juli nanti, insya Allah !. Untuk yang benci atau belum paham dengan tabligh silahkan amalkan doa tersebut dengan hati yang ikhlas…wassalam

Diambil dari sini.

Tuesday, February 10, 2009

UK Decides Not To Introduce Visa Requirement For Malaysians

KUALA LUMPUR, Feb 9 (Bernama) -- Malaysia welcomes the decision of the United Kingdom (UK) not to introduce visa requirement for Malaysian passport holders.

The Foreign Ministry in a statment here today said Malaysia was pleased with the outcome of UK's Visa Waiver Test (VWT) for Malaysians and that the positive result reflected the close working relationship between the British High Commisioner to Malaysia Boyd McCleary and his officials and the Ministry of Foreign Affairs, Home Ministry and Department of Immigration Malaysia.

It said Malaysia would continue to ensure the UK government on the high level of security at all international airports in order to prevent Malaysia from becoming a transit point for illegal immigrants into the UK.

Malaysia would impose sanctions on Malaysian immigration offenders who continue to overstay and work illegally in the UK while cracking down on people smugglers in Malaysia, it added.

-- BERNAMA

Gambar hanyalah imaginasi penulis blog.
Tiada kene mengene 'sangat' dengan isi entry.

Friday, February 06, 2009

Keluar di Jalan Allah

Peta Perancis
~Apa kena mengena dengan entry aku ni, aku pun tak tahu..


Para Sahabat Keluar ke Jalan Allah

Sebanyak 150 jemaah telah dihantar dari Madinah dalam masa 10 tahun tersebut. Baginda s.a.w. sendiri telah menyertai 25 daripada jemaah-jemaah tersebut. Sebahagian jemaah tersebut terdiri daripada 10,000 orang, ada yang 1,000 orang, 500 orang, 300 orang, 15 orang, 7 orang dan sebagainya. Jemaah-jemaah ini ada yang keluar untuk 3 bulan, 2 bulan, 15 hari, 3 hari dan sebagainya. 125 jemaah lagi sebahagiannya terdiri daripada 1000 orang, 600 orang, 500 orang dan sebagainya dengan masa 6 bulan, 4 bulan dan sebagainya.

Sekiranya kita menghitung dengan teliti maka akan didapati purata masa yang diberikan oleh setiap sahabat untuk keluar ke jalan Allah dalam masa setahun ialah antara 6 hingga 7 bulan.


Sahabat keluar 5 tahun

Pada tahun 627M satu rombongan sahabat-sahabat Nabi S.A.W yang diketuai oleh Wahab bin Abi Qabahah dikatakan telah mengunjungi Riau dan menetap selama 5 tahun di sana (sebelum pulang ke Madinah)
(dipetik dari kitab 'Wali Songo dengan perkembangan Islam di Nusantara', )


Sahabat keluar 6 bulan

Bara’ Radiyallahu 'anhu meriwayatkan bahawa Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam telah mengutus Khalid ibne-Walid Radiyallahu 'anhu kepada penduduk Yamen untuk mengajak mereka masuk Islam. Bara berkata: Aku juga termasuk dalam jamaah itu. Kami tinggal di sana selama 6 bulan. Khalid radiyalaahu anhu selalu mengajak mereka untuk masuk Islam, tetapi mereka menolak ajakannya.

Kemudian Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam mengutus 'Ali ibne-Abi Talib Radiyallahu 'anhu ke sana dan memerintahkan kepada Khalid r.a. untuk kembali dengan seluruh jamaah kecuali salah seorang dari jamaah Khalid r.a. yang mahu menemani Ali r.a, maka ia boleh ikut serta dengan Ali r.a. Bara r.a berkata: Akulah yang menemani Ali r.a. selama di sana. Ketika kami betul-betul dekat dengan penduduk Yaman, maka mereka keluar dan dan dating kehadapan kami. Lalu Ali r.a. mengatur shaf mereka untuk mengerjakan solah dan Ali yang menjadi imam dalam solah kami.

Selesai solah, Ali r.a membacakan isi surat Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam kepada mereka. Setelah mendengar isi surat Rasulullah sallalaahu alayhi wasalam itu maka seluruh Bani Hamdan masuk Islam. Kemudian Ali r.a. menulis surat kepada Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam yang isinya memberitahukan tentang ke-Islaman mereka kepada baginda. Setelah isi surat tersebut dibacakan kepada Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam, maka baginda langsung sujud syukur kepada Allah Swt. Setelah mengangkat kepala, baginda berdoa: Keselamatan bagi Bani Hamadan. Keselamatan bagi Bani Hamadan. (Bukhari, Baihaqi, Bidayah-wan-Nihayah)
(Dipetik dari kitab Muntakhab Ahadith, bab Dakwah dan Tabligh,)


Keluar 4 bulan

Ibn Juraij berkata: “Ada seseorang yang menceritakan kepada saya bahawa pada suatu malam ketika Umar radiyalaahu anhu sedang berkeliling (ghast) di sekitar lorong-lorong kota Madinah, tiba-tiba beliau mendengar seorang wanita sedang melantunkan sya’ir:

”Betapa panjang malam ini dan betapa gelap di sekelilingnya, Daku tidak boleh tidur kerana tiada yang tersayang yang boleh ku ajak bercumbu Andai bukan kerana takut berdosa kepada Allah yang tiada sesuatu pun dapat menyamaiNya Sudah pasti ranjang ini di goyang oleh yang lainnya."
Ketika Umar r.a. mendengar sya’irnya itu, maka dia bertanya kepada wanita tersebut, “Apa yang terjadi padamu?” Wanita itu menjawab, “Saya sangat merindukan suami saya yang telah meninggalkan saya selama beberapa bulan.” Umar r.a. betanya, “Apakah kamu bermaksud melakukan hal yang buruk?” Wanita itu menjawab, “Saya berlindung kepada Allah.” Umar r.a. berkata, “Kuasailah dirimu! Sekarang saya akan mengutus orang untuk memanggil suami mu.”

Setelah itu Umar r.a. bertanya kepada anak perempuannya Hafsah r.anha, “Aku akan bertanya padamu mengenai sesuatu masalah yang membingungkan aku, mudah-mudahan kamu boleh memberi jalan keluar untukku. Berapa lama seorang wanita mampu menahan kerinduan ketika berpisah dari suaminya?” Mendengar pertanyaan itu, Hafsah r.anha menundukkan kepala merena merasa malu. Umar r.a. berkata, “ Sesungguhnya Allah tidak pernah merasa malu dalam hal kebaikan.” Hafsah menjawab sambil berisyarat dengan jari tangannya, “Tiga sampai empat bulan.” Kemudian Umar r.a. menulis surat kepada setiap amir (pimpinan) pasukan tentera Islam supaya tidak menahan anggota pasukannya lebih dari 4 bulan.”
(Riwayat Abdur Razzaq dalam kitab Al-Kanz Jilidl VIII, m/s.308).

Ibnu 'Umar (Radiallahu'Anhu) mengatakan bahawa pada suatu malam Umar r.a. keluar (untuk melihat ehwal orangramai), tiba-tiba beliau mendengar seorang wanita sedang bersya’ir:

"Betapa panjang malam ini dan betapa gelap di sekelilingnya Aku tidak boleh tidur kerana tida yang tersayang yang boleh kuajak bercumbu."

Kemudian Umar r.a. bertanya kepada Hafsah r.anha, berapa lama wanita dapat bertahan tidak bertemu dengan suaminya?” Hafsah r.anha menjawab, “Enam atau empat bulan.” Maka Umar r.a. berkata, “Untuk selanjutnya saya tidak akan menahan tentera lebih dari masa itu.”
(Hr. Baihaqi dalam kitabnya jilid IX m/s 29)
[seperti yang dipetik dari kitab Hayatus Sahabah, bab Al-Jihad]


Keluar 40 hari

"Seorang lelaki telah datang kepada Saiyidina Umar ibnu Khattab r.a. maka Saiyidina Umar r.a. pun bertanya: Di manakah engkau berada? Dijawabnya: Saya berada di Ribat. Saiyidina Umar r.a. bertanya lagi: Berapa hari engkau berada di Ribat itu? Jawabnya tiga puluh hari. Maka berkata Saiyidina Umar r.a.: Mengapa kamu tidak cukupkan empat puluh hari?
(Kanzul Ummal, Juzuk 2 muka surat 288, dipetik dari kitab 'Risalah ad Dakwah)


Keluar 3 hari

Daripada Ibnu Umar r.a. berkata: Nabi SAW telah memanggil Abdul Rahman bin Auf r.a. lalu bersabda: Siap sedialah kamu, maka sesungguhnya aku akan menghantar engkau bersama satu jama'ah maka menyebut ia akan hadis dan katanya: Maka keluarlah Abdul Rahman hingga berjumpa dengan para sahabatnya, maka berjalanlah mereka sehingga sampai ke suatu tempat pertama bernama Daumatul Jandal, maka manakala ia masuk ke kampung itu ia mendakwah orang-orang kampung itu kepada Islam selama tiga hari. Manakala sampai hari yang ketiga dapat Islamlah Asbagh bin Amru al Kalbi r.a. dan adalah ia dahulunya beragama Nasrani dan ia ketua di kampung itu.
(Hadith riwayat Darul Qutni, dipetik dari kitab 'Risalah ad Dakwah)

Wednesday, February 04, 2009

Ijtimak Malaysia 2009 - tarikh


  • Tarikh ijtimak Malaysia 9,10,11 & 12 Julai 2009 insyaAllah.
  • Umat Islam seluruh Malaysia (lelaki shj) dijemput, diminta dan diharap dapat hadir.
  • Tempat dan tujuan ijtimak; KLIK SINI.
  • Kemudian elders (ulama dan orang lama dalam tabligh) akan ke Filipina, Jakarta dan Singapura.
  • Tak dibenarkan sesiapa ikut jemaah elders ke tempat2 ijtimak di negara lain kecuali dengan kelulusan syura Malaysia.

Jemaah Asar - Isyak
  • Jemaah ini perlu dirombak semula
  • Hanya orang yang telah sempurna 2½ jam di masjidnya pada hari itu sahaja yang boleh menyertai jemaah ni.
  • Perlu hadir malam markas.
  • Gash umumi dan 3 hari bersama masjid sendiri.
  • Selepas 40 hari, jemaah dibubarkan dan diganti dengan jemaah lain.

Karguzari ringkas ijtimak Tongi 2009
  • Kehadiran lebih 2 juta orang, 17,000 foreign dari berbagai negara termasuk Arab, Turki, China, Rusia dan bekas Rusia. Dari Malaysia 1000 orang hadir.
  • Pesan elders, umat terbahagi kepada 4;
  1. Orang yang buat usaha agama. Akan dapat pertolongan Allah di dunia dan di akhirat.
  2. Orang beramal untuk diri sendiri dengan menjaga segala hukum2 Allah. Tiada pertolongan Allah di dunia tetapi ada di akhirat.
  3. Orang yang buat amal tatapi banyak melanggar hukum Allah. Tiada pertolongan di dunia, akan diazab di akhirat tetapi akhirnya dapat masuk syurga.
  4. Orang yang tiada iman. Akan kekal selamanya di neraka. (nauzubillah!)
  • Jika tiada golongan pertama, maka golongan 4 akan menguasai/memerintah umat Islam.
  • Untuk itu;
  1. Buat kerja dakwah.
  2. Baiki solat sehingga solat dapat menarik bantuan Allah dan menyelesai segala masalah.
  3. Zikrullah terutama zikir pagi dan petang.
  4. Taubat dan istighfar untuk diri. Juga untuk seluruh umat Islam seperti seorang anak yang memohon belas kasihan bapa supaya tidak merotan adik yang melakukan kesilapan (umat ini sedang dirotan oleh Allah kerana meninggalkan kerja dakwah).
  5. Buat keputusan untuk buat kerja ini sampai mati.
  • Info lain;
  1. Herald Tribune
  2. Centre Daily
  3. Newsvine
  4. About Tongi Ijtimak

Nota Tambahan

Sekarang ni ada jemaah Perancis, Belgium dan Yaman di Kuala Lumpur. Jemaah Perancis diminta beri sedikit laporan usaha di Perancis.
  • Usaha bermula pada akhir tahun 70an. Hanya ada 1 masjid di Paris. Itupun untuk tujuan pelanconngan.
  • Setelah usaha dibuat, sekarang ada 800 masjid di Paris dan 6000 masjid di seluruh Perancis. 1 juta orang kulit putih Perancis masuk Islam.
  • Elders putuskan bahawa setiap jemaah 3 hari yang keluar di Perancis pelu ada orang baru.
  • Jemaah2 dari Perancis sudah mula dihantar ke seluruh dunia. Beberapa tahun lepas, satu jemaah di hantar ke Argentina. Selama 3 bulan lebih mereka buat usaha hanya di satu masjid. bukan setakat usaha dari rumah ke rumah tetapi dari orang ke orang sehingga mereka jumpa setiap individu di kawasan itu.
  • Usaha masturat (suami isteri) juga bergerak maju di Perancis.
  • Pemain bolasepak Perancis, Anelka juga telah memeluk Islam dan telah keluar di jalan Allah. Subhanallah!


Serban Nabi Dan Para Sahabatnya


Gambar Hiasan - Kawan2 nak ke Tongi


Saiyidina Huraith R.A meriwayatkan bahawa beliau telah melihat Rasulullah S.A.W berdiri di atas mimbar sedang pada ketika itu Baginda memakai serban hitam. Kedua-dua ekor serban berjuntaian di antara bidang (belikat) bahunya (yakni di belakang).
(Muslim Jilid 1, m.s 490, Ibn Abi Syaibah Jilid 8, m.s 239, Ibn Majah m.s. 256, Abu Daud m.s. 653)

Saiyidina Ataa Ibn Abi Rabah R.A meriwayatkan bahawa suatu ketika sedang aku bersama Saiyidina Abdullah bin Umar R.A, seorang pemuda datang kepadanya dan bertanya mengenai ekor serban, bagaimana yang diamalkan oleh Rasulullah S.A.W. Saiyidina Ibn Umar R.A memberitahu pemuda tersebut bahawa beliau amat mengetahui jawapannya dan akan menerangkannya dengan senang hati kepadanya.

Kemudian beliau berkata : “Satu ketika, aku berada di dalam Masjid Nabi S.A.W. Bersama –sama dengan Nabi S.A.W adalah bersama sahabat-sahabat Baginda Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Ibn Masud, Huzaifah Abdur Rahman bin Auf, Abu Said Al-Khudri R.A. Semuanya ada 10 orang sahabat. Seorang pemuda Ansar masuk ke masjid, memberi salam kepada Rasulullah S.A.W dan terus duduk. Nabi S.A.W memberi tumpuan kepadanya (dan menasihatinya). Kemudian Nabi S.A.W memberitahu Saiyidina Abdur Rahman Ar R.A bahawa satu jenazah Mujahidin akan dihantar pada waktu pagi dan beliau hendaklah bersedia menyertai mereka. Pada waktu pagi Saiyidina Abdur Rahman Auf memakai serban kain kapas berwarna hitam, mempersediakn dirinya untuk angkatan tersebut. Nabi S.A.W mendekatinya dan menanggalkan serbannya dan melilit serban putih ke kepalanya. Serban ini telah diikat dengan cara dimana ekornya kira-kira empat jari panjangnya dibenarkan berjuntai di belakang. Tatkala melakukannya Nabi S.A.W bersadba : “Ibn Auf, ikat serban seperti ini kerana ia lebih sesuai dan jelas”, inilah cara orang-orang Arab dan merupakan cara pemakaian yang betul. Nabi S.A.W kemudiannya menyuruh Bilal R.A memberikan bendera kepada Saiyidina Abdur Rahman Auf R.A, ini menggambarkan tanggungjawab untuk mengepalai angkatan tersebut.
(Mustadrak Hakim, Jilid 4, m.s 540)

Aisyah R.A meriwayatkan bahawa pada masa Peperangan Khandak, beliau menyaksikan seorang yang menyerupai Saiyidina Dahya Kalbi RAnhu. Orang ini duduk di atas binatang dan berbual perlahan dengan Nabi S.A.W. Beliau berserban yang salah satu ekornya terjuntai di belakang. Selanjutnya beliau meriwayatkan bahwa beliau bertanya Rasulullah S.A.W mengenai orang itu, lalu diberitahu bahawa ia ialah Saiyidina Jibrail A.S dan beliau memberitahu Nabi S.A.W supaya meneruskan kearah Banu Quraizah (kaun Yahudi yang musuh Islam dan penghuni Madinah pada ketika itu). Jelas bahawa Jibrail A.S telah datang untuk memberitahu perintah Allah.

Aisyah R.A meriwayatkan bahawa suatu ketika seorang menunggang kuda Turki datang menemui Nabi S.A.W. Penunggang itu memaki serban. Ekornya berjuntai di antara bahunya (belikat). Aisyah bertanya kepada Rasulullah S.A.W mengenainya. Nabi S.A.W menyatakan rasa terkejut kerana Aisyah telah melihat si penunggang itu lalu memberitahunya bahawa orang itu ialah Jibrail A.S.
(Ibid)

Ibn Umar R.A meriwayatkan bahawa apabila Nabi S.A.W akan melilit serbannya, Baginda akan membiarkan ekor serban itu berjuntai di antara bahunya. Nafi’ (murid kepada Ibn Umar R.A) meriwayatkan bahawa Ibn Umar R.A juga melakukan demikian.
Pengarang syarah Tirmizi menyatakan, “Hadis ini hasan” (baik). Hadis daripada Amr bin Huraith di dalam Muslim dan juga lain hadis memperkuatkan kedudukan hadis ini.
(Tuhfatul Ahwazi jilid 3, ms. 50)

Saiyidina Aisyah R.A meriwayatkan Nabi S.A.W melilit serban Saiyidina Abdur Rahman bin Auf R.A dan membiarkan ekor serbannya lebih sebanyak empat jari. Baginda bersabda : “Apabila aku Israk dan Mikraj, aku lihat kebanyakkan para Malaikat berserban”.

Saiyidina Musa Asha'ari R.A meriwayatkan bahawa Jibrail A.S memakai serban datang menemui Rasulullah S.A.W. Ekor serbannya berjuntai di belakang.

Saiyidina Thauban R.A meriwayatkan bahawa Nabi S.A.W akan melilit serbannya dengan cara di mana satu ekor serbannya berjuntai di belakang dan satu lagi di depan.

Abu Umamah R.A meriwayatkan bahawa bilamana Nabi S.A.W akan mengutus seorang sebagai gabenor bagi sesuatu tempat, Baginda akan melilitkan serban ke atas kepala orang yang dihantar. Serban akan diikat dengan cara di mana ekor serban itu berjuntai di sebelah kanan, hampir ke telinga.

Abu Abdul Salam meriwayatkan bahawa beliau bertanya Ibn Umar R.A tentang cara bagaimana Nabi S.A.W melilit serbannya. Beliau menjawab, “Rasulullah S.A.W akan melilit lipatan serban di kepala, Beliau akan membiarkan ekornya di belakang berjuntai di antara bahunya.

Saiyidina Abdul Rahman bin Auf R.A meriwayatkan bahawa Nabi S.A.W melilit serban untuknya dengan cara ekor serban berada di depan dan belakang.
(Abu Daud m.s. 564)

Saiyidina Ubadah R.A meriwayatkan bahawa Nabi S.A.W bersabda : “Jadikanlah amalan melilit serban kerana ia sebagai syiar para Malaikat. Selanjutnya lilitan serban-serban itu dengan cara ekornya berjuntai di belakang.
(Baihaiqi meriwayatkan di dalam Syubul Iman, Misykat m.s. 377)

Suatu ketika seorang datang menemui Ibn Umar R.A dan menyebutkan namanya, Abu Abdur Rahman, bertanya kepadanya apakah amalan melilit serban itu sunnah. Ibn Umar R.A menjawab “ya” dan untuk memperjelaskannya bahawa Nabi S.A.W menyuruh mereka pergi dan meletakkan kain mereka di atas kepala dan memakai baju besi. Mereka akur dengan Nabi S.A.W dan menghadirkan diri mereka di hadapan Nabi S.A.W. Beliau mengambil kain lalu melilit serban itu di kepala mereka dengan cara ekor serban itu berjuntai di kedua-dua bahagian (belakang dan depan).
(Umdatul Qari Jilid 21, m.s 307, daripada Kitabul Jihad oleh Ibn Abi Aasim)

Saiyidina Aisyah R.A meriwayatkan bahawa Nabi S.A.W melilit serban hitam daripada kain kapas untuk Abdul Rahman bin Auf R.A dan menjuntaikan “sebanyak ini” di sebelah depan.
(Umdatul Qari Jilid 21, m.s. 307 daripada Ibn Abi Syaibah)

Ibn Umar R.A meriwayatkan bahawa Nabi S.A.W melilit serban daripada kain kapas di kepala Abu Aur R.A dengan cara ekornya kira-kira panjang empat jari di sebelah belakang. Nabi S.A.W juga bersabda: “Lilitlah serbanmu begini”.
(Umdatul Qari Jilid 21, m.s 307)


******************************************************************************

Semoga aku sendiri dapat amalkan dan sampaikan...

Tiada Daya Dan Upaya Melainkan Allah (sahaja yang mempunyai daya dan upaya).

Monday, February 02, 2009

Boikot di Zaman Nabi

Dari Abdullah bin Ka'ab bin Malik ra., (beliau adalah salah seorang panglima perang), dari anaknya, ia berkata, "Saya mendengar Ka'ab bin Malik bercerita tentang tertinggalnya (tidak bersama) Rasulullah saw. dalam perang Tabuk. Ka'ab bin Malik berkata, "Saya selalu bersama Rasulullah saw. dalam setiap peperangan, kecuali dalam perang Tabuk. Memang saya juga tidak bersama beliau dalam perang Badar, tetapi tak seorangpun dicela karena tidak ikut perang tersebut. Sebab waktu itu Rasulullah saw. bersama kaum muslimin keluar bertujuan menghadang rombongan Quraisy, lalu tanpa terduga Allah mempertemukan mereka dengan musuh.

Sungguh saya mengikuti pertemuan bersama Rasulullah saw. pada malam hari di dekat Jumrah Aqabah ketika kami berjanji memeluk agama Islam. Saya tidak merasa lebih senang seandainya saya bisa mengikuti perang Badar tetapi tidak mengikuti bai'at di Jumrah Aqabah, meskipun perang Badar lebih banyak disebut-sebut keutamaannya di kalangan manusia daripada Bai'at di Jumrah Aqabah. Adapun cerita tentang diriku tidak ikut perang Tabuk, waktu itu saya sama sekali tidak merasa lebih kuat ataupun lebih mudah (mencari perlengkapan perang) daripada ketika saya tertinggal dari Rasulullah saw. dalam perang Tabuk. Demi Allah sebelum perang Tabuk saya tidak dapat mengumpulkan dua kendaraan sekaligus, tetapi waktu perang Tabuk kalau mau saya bisa melakukannya.

Karena Rasulullah saw. berangkat ke Tabuk ketika hari sangat panas, menghadapi perjalanan jauh dan sulit serta menghadapi musuh yang berjumlah besar, maka Rasulullah saw merasa perlu membekali kaum muslimin akan kesulitan-kesulitan yang mungkin dihadapi agar kaum muuslimin membuat persiapan yang cukup. Rasulullah saw. juga menjelaskan tentang tujuan mereka. Waktu itu kaum muslimin yang ikut perang Tabuk bersama Rasulullah saw. cukup banyak (sekitar 30.000 orang), tetapi nama-nama mereka tidak tercatan dalam buku. Sedikit sekali di antara mereka yang absen (bersembunyi dan tidak ikut perang). Orang-orang yang absen itu mengira bahwa Rasulullah saw. tidak mengetahuinya selama wahyu Allah Ta'ala tidak turun.

Rasulullah berangkat ke Tabuk ketika buah-buahan dan tetumbuhan kelihatan bagus. Karena itu hatiku lebih condong ke sana (kepada buah-buahan dan tetumbuhan). Tatkala Rasulullah dan kaum muslimin hendak berangkat mempersiapkan segala sesuatunya, saya pun bergegas keluar guna mempersiapkan diri bersama mereka. Namu saya kembali tanpa menghasilkan apa-apa, padahal dalam hati saya berkata, "Saya mampu mempersiapkannya jika bersungguh-sungguh." Demikian itu berlangsung terus, dan saya selalu menundanya untuk mempersiapkan perlengkapan perang, sampai kesibukan kaum muslimin memuncak.

Pada akhirnya di pagi hari Rasulullah saw. beserta kaum muslimin berangkat, sementara saya belum mengadakan persiapan. Lalu saya keluar (untuk mencari perlengkapan), tetapi saya kembali dengan tangan kosong. Hingga kaum muslimin bertambah jauh dan pertempuran semakin dekat. Kemudian saya putuskan untuk menyusul kaum muslimin. Andai saja saya berbuat demikian, namun takdir menentukan lain.

Akhirnya ketika saya keluar dan bergaul dengan masyarakat sesudah berangkatnya Rasulullah saw. hatiku resah dan saya menganggap diri ini tidak lebih sebagai seorang munafiq atau lelaki yang diberi keringanan oleh Allah karena lemah (pada saat itu di Madinah yang tinggal hanyalah orang-orang yang disebut munifiq dan orang-orang yang udzur karena amat lemah, seperti orang yang tidak dapat berjalan, buta, sakit dan sebagainya). (Menurut keterangan teman-teman)Rasulullah saw. tidak pernah menyebut-nyebut saya hingga sampai ke Tabuk. Sesampainya di Tabuk barulah beliau bertanya,

"Apa sebenarnya yang dikerjakan oleh Ka'ab bin Malik?"

Salah seorang dari Bani Salimah menjawab, "Ya Rasulullah, dia terhalang oleh selendangnya dan sedang memandang kedua pinggangnya (sedang bersenang-senang memakai pakaiannya)."

Tetapi Mu'adz bin Jabal menghardiknya. "Betapa buruk perkataanmu. Demi Allah yang kami ketahui pada Ka'ab hanyalah kebaikan."

Rasulullah saw pun diam. Pada saat itulah Rasulullah melihat seorang lelaki berpakaian putih sedang berjalan di kejauhan.Rasulullah saw. bersabda, "Mudah-mudahan itu adalah Abu Khaitsamah."

Ternyata benar, orang itu adalah Abu Khaitsamah Al-Anshariy. Dialah orang yang bersedekah segantang kurma, ketika diolok-olok oleh orang munafiq.

Ka'ab meneruskan ceritanya, "Tatkala saya mendengar bahwa Rasulullah berada dalam perjalanan pulang dari Tabuk, maka kesusahan pun mulai menyelimuti saya. Saya mulai mereka-reka alasan apa yang bisa menyelamatkan saya dari Rasulullah saw. Saya juga meminta bantuan keluargaku mencari alasan dan jalan keluar yang baik. Tetapi ketika mendengar bahwa Rasulullah saw. sudah dekat, hilanglah segala macam kebohongan yang saya siapkan hingga saya yakin tidak ada alasan yang dapat menyelamatkan dari Rasulullah saw., selamanya. Karena itu saya akan mengatakan yang sebenarnya.

Keesokan harinya Rasulullah saw. tiba. Biasanya kalau beliau datang dari bepergian yang beliau tuju pertama kali adalah masjid. Beliau mengerjakan salat dua raka'at lalu duduk menunggu kaum muslimin melaporkan sesuatu dan sebagainya. Maka berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut ke Tabuk menemui beliau. Mereka mengemukakan berbagai alasan kepada Rasulullah saw. disertai dengan sumpah. Mereka yang tidak ikut perang Tabuk ada delapan puluh orang lebih. Rasulullah saw. menerima mereka. Beliau memperkenankan memperbaharui bai'at dan memohonkan ampun bagi mereka, sedangkan batin mereka beliau serahkan kepada Allah Ta'ala.

Tibalah giliran saya menghadap. Ketika saya mengucapkan salam beliau tersenyum sinis kemudian bersabda, "Kemarilah."

Kaab berjalan mendekat dan duduk di hadapan beliau. Lalu beliau mulai bertanya.
"Apa yang menyebabkan engkau tidak ikut berangkat? Bukankah engkau telah membeli kendaraan?"

Saya menjawab, "Ya Rasulullah! Demi Allah, andaikata saya duduk di hadapan orang selainmu, saya yakin akan dapat bebas dari kemarahannya dengan mengemukakan alasan yang bisa diterima. Sungguh saya telah dikaruniai kepandaian berbicara. Namun, demi Allah saya benar-benar yakin, seumpama hari ini saya berkata bohong dan engkau menerimanya, pasti sebentar lagi Allah Ta'ala menggerakkan hatimu untuk marah kepada saya. Sebaliknya, jika saya berkata benar yang membuatmu marah kepadaku, maka saya dapat mengharapkan penyelesaian yang baik dari Allah. Demi Allah, saya tidak mempunyai udzur. Demi Allah, diriku sama sekali tidak merasa lebih kuat dan lebih mudah daripada ketika saya tidak mengikutimu ke Tabuk. Sekarang ini saya merasa cukup segalanya."

Rasulullah saw., bersabda, "Orang ini (Ka'ab bin Malik) telah berkata benar. Berdirilah! Tunggu keputusan Allah terhadap dirimu."

Akupun berdiri. Beberapa orang dari Bani Salimah menghampiri saya. Mereka berkata kepada saya, "Demi Allah, kami tidak pernah melihatmu melakukan dosa sebelum ini. Engkau benar-benar tidak mampu mengemukakan alasan kepada Rasulullah saw., seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain yang tidak ikut ke Tabuk. Mestinya cukuplah bagimu jika Rasulullah saw. memintakan ampun untukmu."

Ka'b melanjutkan, "Demi Allah, orang-orang Bani Salimah itu terus-menerus menyalahkan diriku, sehingga ingin rasanya saya kembali kepada Rasulullah saw. untuk meralat perkataanku. Tetapi kemudian saya bertanya kepada orang-orang Bani Salimah itu, "Adakah orang lain yang mengalami seperti yang saya alami?" Mereka menjawab, "Ya memang ada. Ada dua orang yang mengatakan seperti apa yang engkau katakan dan mereka mendapat jawaban sama seperti jawaban yang engkau terima."

Saya bertanya, "Siapa mereka?" Mereka menjawab, "Murarah bin Rabi'ah Al-Amiriy dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifiy."

Dua orang lelaki salih itu telah mengikuti perang Badar dan dapat kuikuti karena akhlaknya. Sejak itu Rasulullah saw. melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga. Sejak itu pula mereka telah berubah sikap dan menjauhi kami sehingga bumi terasa asing bagiku seolah-oleh bumi yang saya pijak ini bukanlah bumi yang sudah ku kenal.

Keadaan seperti ini berlangsung selama lima puluh hari. Dua orang temanku (Murarah dan Hilal) menyembunyikan diri dan diam di rumahnya masing-masing sambil tiada henti-hentinya menangis mohon ampun kepada Allah karena tidak ikut perang. Di antara kami bertiga sayalah orang yang paling muda dan paling kuat. Saya tetap keluar rumah untuk mengikuti salat jamaah bersama kaum muslimin, juga pergi ke pasar. Tetapi tak seorangpun mau diajak berbicara. Saya pergi menghadap Rasulullah saw. untuk sekadar mengucapkan salam kepada beliau di tempat duduk beliau sesudah salat. Tetapi hati ini berkata, "Apakah Rasulullah saw. akan menggerakkan bibir beliau untuk menjawab salam, ataukah tidak?"

Kemudian saya mngerjakan salat berdekatan dengan beliau, sesekali saya melirik beliau. Apabila menghadap ke salat, beliau memandangku, kalau menengok ke arah beliau beliau berpaling dari saya. Hal ini terjadi berturut-turut sampai suatu hari saya berjalan-jalan lalu melompati pagar pekarangan Abu Qatadah. Dia adalah saudara sepupu dan orang yang paling saya sayangi. Kuucapkan salam kepadanya.

"Demi Allah, bukankah engkau tahu bahwa saya ini cinta kepada Allah dan Rasul-Nya?" Abu Qatadah diam saja.Sehingga kuulangi pertanyaanku, dia tetap diam. Sesudah saya ulangi pertanyaan saya sekali lagi barulah dia menjawab.

"Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!" Seketika itu mengalirlah air mata saya dan saya pun pulang. Pada suatu hari, ketika saya sedang berjalan di kota Madinah, tiba-tiba ada seorang petani beragama Kristen dari Syam yang datang ke Madinah untuzk menjual bahan makanan. Petani itu bertanya (kepada orang-orang yang berada di pasar), "Siapakah yang dapat menunjukkan diriku pada Ka'ab bin Malik?" Orang-orang memberikan isyarat ke arahku. Petani itu mendatangiku dan menyerahkan sepucuk surat kepadaku, dari raja Ghassan.

Setelah saya baca ternyata isinya sebagai berikut, "Amma ba'du. Seungguh kami mendengar bahwa temanmu (Nabi Muhammad saw.) mendiamkanmu, sedangkan Allah sendiri tidak menjadikanmu untuk tinggal di tempat hida dan tersia-sia. Karean itu datanglah ke negeri kami. Kami pasti menolongmu." Saat membaca surat itu saya berpikir, "Ini juga merupakan cobaan." Kemudian saya bakar surat itu di dapur.

Selang empat puluh hari tiba-tiba seorang utusan Rasulullah saw. datang kepadaku dan berkata, "Rasulullah saw. memerintahkanmu untuk menjauhi isterimu."

Ka'ab bertanya, "Apakah saya harus menceraikannya atau bagaimana?"

Utusan itu menjawab, "Tidak, tetapi hindarilah dia, jangan dekat-dekat padanya!" Rasulullah saw. juga mengirimkan utusan kepada kedua orang temanku (Murarah dan Hilal) yang maksudnya sama dengan yang kuterima.

Saya berkata kepada isteriku, "Pulanglah kepada keluargamu. Sementara menetaplah engkau di sana, sampai keputusan Allah datang.

Suatu saat isteri Hilal bin Umayyah mengadap Rasulullah saw., memohon kepada beliau. "Ya Rasulullah! Suamiku, Hilal bin Umayyah, adalah seorang tua sebatang kara dan tidak mempunyai pelayan. Apakah engkau keberatan bila saya melayaninya?"

Rasulullah saw. menjawab, "Tidak, tetapi yang saya maksud jangan sampai dia dekat-dekat padamu." Isteri Hilal pun berkata, "Demi Allah, Hilal sudah tidak lagi mempunyai keinginan sedikitpun (gairah) terhadapku. Dan demi Allah, tak henti-hentinya dia menangis sejak engkau melarang kaum muslimin berbicara dengannya, sampai hari ini."

Sebagian keluarga berkata kepada saya, "Hai Ka'ab! Kalau saja engkau meminta izin kepada Rasulullah saw. untuk isterimu tentu itu lebih baik, sebagaimana isteri Hilal bin Umayyah untuk melayani suaminya."

Saya menjawab, "Saya tidak akan meminta izin kepada Rasulullah saw. Saya tidak tahu apa yang akan dikatakan Rasululllah saw. apabila saya meminta izin beliau, sedangkan saya seorang yang masih muda."

Saya lalui kehidupan tanpa isteri itu selama sepuluh hari (menunggu keputusan Allah). Genaplah sudah bagi kami lima puluh hari sejak ada larangan berbicara dengan kami. Kemudian pada hari ke lima puluh, di bagian atas rumahku pada saat saya sedang duduk ketika salat subuh, Allah menyebut-nyebut tentang kami. Di saat itu pula hatiku sangat resah, bumi yang sedemikian luas seakan sempit bagiku.

Kemudian saya mendengar suara orang yang berteriak-teriak naik ke atas Sal'i. "HaiKa'ab bin Malik, bergembiralah!"

Serta merta saya menjatuhkan diri bersujud syukur dan saya tahu bahwa saya dapat penyelesaian. Rasulullah saw. memberitahu kepada kaum muslimin, bahwa Allah Yang Maha Agung dan Maha Tinggi telah menerima tobat kami bertiga. Kabar itu disampaikan seusai beliau mengerjakan salat Subuh. Maka kaum muslimin berdatangan mengucapkan selamat dan ikut bergembira, juga kepada kedua orang teman (Murarah dan Hilal). Mereka ada yang datang berkuda, ada lagi penduduk Aslam yang berjalan kaki dan ada pula yang naik gunung berteriak mengucapkan selamat,sehingga suaranya lebih cepat dari larinya kuda.

Ketika saya mendengar ucapan selamat dari orang pertama dan datang kepada saya, seketika itu juga saya melepaskan pakaian dan saya kenakan kepadanya. Padahal demi Allah Waktu itu saya tidak memiliki pakaian. Setelah itu saya meminjam pakaian dan berangkat untuk menghadap Rasulullah saw., sementara kaum muslimin menyambutku, mengucapkan selamat atas diterimanya tobatku. Mereka berkata kepada saya, "Selamat atas pengampunan Allah kepadamu." Demikianlah, sepanjang jalan kaum muslimin memberikan selamat.

Sesampainya di masjid, ternyata Rasulullah saw. dedang duduk dikelilingi oleh para sahabat. Melihat kedatanganku, sahabat Thalhah bin Ubaidillah segera berdiri menyongsongku, menjabat tangan saya dan memberi selamat. Demi Allah! Tak seorangpun di antara para sahabat Muhajirin yang berdiri, kecuali dia. Karena itulah Ka'ab tidak bisa melupakan kebaikannya.

Ka'ab meneruskan ceritanya, "Tatkala saya mengucapkan salam kepada Rasulullah saw. beliau menyambut saya dengan wajah yang berseri-seri dan berkata, "Bergembiralah! Karena hari ini merupakan hari paling baik bagimu sejak kamu dilahirkan ibumu."

Aku bertanya, "Wahai Rasulullah apakah itu darimu sendiri ataukah dari sisi Allah?"

Beliau saw. menjawab, "Dari Allah yang Maha Agung dan Maha Tinggi." Jika merasa senang, wajah Rasulullah saw. bersinar terang seolah-olah merupakan potongan rembulan. Melalui wajahnya kami mengetahui bahwa Rasulullah saw. sedang senang hatinya.

Ketika saya duduk menghadap beliau, saya berkata, "Ya Rasulullah, sungguh termasuk tobat saya (sebagai pernyataan rasa syukurku), aku hendak menyerahkan harta bendaku sebagai sedekah untuk (mendapat ridha)Allah dan Rasul-Nya."

Rasulullah saw. bersabda, "Simpanlah sebagian harta bendamu (jangan engkau serahkan seluruhnya.) Itu lebih baik."

Kemudian saya menjawab, "Saya masih mempunyai tanah yang menjadi bagian saya hasil dari rampasan perang di Khaibar." Lebih lanjut saya berkata, "Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkanku karena kejuruan. Dan saya nyatakan bahwa termasuk tobatku (sabagai pernyataan rasa syukur kepada Allah) saya tidak akan berbicara selain yang benar selama hidup saya."

Demi Allah saya tidak pernah melihat seorang pun di antara kaum muslimin yang diuji Allah Ta'ala untuk berkata jujur lebih baik dari saya semenjak berjanji kepada Rasulullah saw, sampai hari ini. Demi Allah, sejak saya berjanji kepada Rasulullah saw.hingga kini, saya tidak pernah sengaja berbohong. Dan saya berharap semoga Allah menjagaku dalam sisa hidupku."

Kemudian Allah menurunkan ayat 117 s/d 119 surat At-Taubah,
"Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan terhadap tiga orang [Yaitu Ka'ab bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Mararah bin Rabi'] yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja.

Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar."

Menurut Ka'ab, "Demi Allah, belum pernah Allah memberikan nikmat sesudah Dia memberi saya petunjuk memeluk Islam yang melebihi kejujuran saya kepada Rasulullah saw. Sebab, andaikata saya berbohong kepada beliau, pastilah bencana menimpa saya (rusak agamaku) sebagaimana orang-orang munafik yang berdusta kepada beliau. Sungguh Allah telah berfirman untuk orang-orang mendustai Rasulullah saw. dan mengecam betapa jelek orang tersebut.

Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 95 dan 96,
"Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka [Maksudnya, tidak mencela mereka]. Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka jahannam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu."

Lebih lanjut Ka'ab berkata, "Urusan kami bertiga ditunda dari urusan orang-orang munafiq ketika mereka bersumpah kepada Rasulullah saw., lalu beliau menerima bai'at mereka dan meminta ampun kepada Allah. Tetapi masalah kami ditunda Rasulullah saw. sampai Allah memutuskan menerima tobat kami." Sebagaimana firman Allah Ta'ala, "Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan tobatnya...." (QS.9,118)

Firman tersebut menurut Ka'ab bukan berarti kami bertiga ketinggalan dari perang Tabuk, tetapi mempunyai arti bahwa persoalan kami bertiga diundur dari orang munafiq yang bersumpah kepada Rasulullah saw. dan menyampaikan bermacam-macam alasan yang kemudian diterima oleh Rasulullah saw." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam salah satu riwayat disebutkan, "Nabi saw. pada waktu perang Tabuk keluar pada Hari Kamis."

Dalam salah satu riwayat lain disebutkan, "Biasanya beliau kalau datang dari bepergian pada waktu pagi, dan bila datang biasanya langsung ke Masjid dan salat
dua rakaat kemudian duduk di dalamnya."